Bulan yang kurenung di tengah malam yang gelita,

Kadang terang dan selalu juga kabur,

Dan aku terus merenung bulan itu,

Dengan rasa yang bercerita,

Tentang Qada’ dan Qadar-Nya.

Bulan itu mengingatkan aku,

Tentang Rahimin pemeran idea,

Tentang Rizal, Sarul, Izwan dan Suhaimi,

Juga Azzahari yang selalu mengerti.

Dan dengan fikir yang merba

puisi pun terlahir.

Sedetik kurenung bait-bait Sarul

“Ramadhan bukan sekadar lapar dan dahaga”

Tataplah kitab, imbas lah ajaran

Kau dipinta agar bersederhana

Kau diimbau mencari makna”

Benar Sarul,

Bazar Ramadhan adalah medan perang antara lapar dan nafsu.

“Ramadhan adalah memori”

Dan kufahami kenangan Izwan,

Yang tercerita lewat puisinya,

Dalam zaman kedewasaan yang mematangkan,

Dalam sedar dan juga enggan.

Melihat Suhaimi,

Dalam figura seorang bapa,

Untuk anak yang sering dibangga,

Dan dia Suhaimi,

Yang pernah merasa kecilnya usia,

Antara paksa dan rela,

Antara ikhlas dan juga tipudaya,

Mengharap pencarian makna Ramadhan,

Masih mencarikah sehingga kini?

Di situ Rizal,

Tetap berdiri sebagai kawan,

Kukenali dirimu dalam sisi yang lain,

Dan kau kenalkan aku pada dirimu yang lain,

Semoga Lailatul itu mendamping dirimu,

menghilang resah pencarian yang satu,

percaya janji Allah!

Seorang Layla,

Masih menanti puisi Azzahari,

Dalam resah diri,

Sedikit geram dengan kawan terperi,

Seorang Rahimin, pencabar dalam sepi.

Dan seorang Layla Yang pernah berkata tentang redha,

Ditemukan duga dan takdir Maha Esa,

Ramadhan ini ceritanya luka,

Untuk diri yang selalu alpa.

Dan bulan itu terus ada,

Untuk kurenung sesekali,

dan Dia, tidak pernah lepas merenungku.

*Puisi mengenang Ramadhan, dan kawan-kawan. Tentang lapar dan dahaga. Tentang duga dan takdir-Nya. Tentang CikD80 si harta dunia yang direnggut Encik pencuri durjana.

Puisi Ramadhan Versi Rizal

Puisi Ramadhan versi Suhaimi

Puisi Ramadhan versi Sarul

Puisi Ramadhan versi Cikgu Izwan

Versi Azzahari

Advertisements